Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Monogami vs Poligami
(Oleh J Verkuyl)

Pernikahan haruslah dipandang sebagai suatu peraturan yang ditetapkan oleh Tuhan. Menurut Yesus pernikahan di Firdaus antara Adam dan hawa adalah pernikahan asli yang dikehendaki Allah (Injil Matius 19:3), dan  pernikahan di Firdaus itu digambarkan di dalam Alkitab sebagai suatu penyerahan seorang laki-laki kepada seorang wanita, penyerahan seorang wanita kepada seorang laki-laki untuk seumur hidup. Pernikahan monogami adalah pernikahan asli yang dikehendaki Allah.

Tetapi di dalam kitab Perjanjian Lama (Torat) nampak bahwa gejala poligami atau permaduan memasuki juga lingkungan orang-orang beriman. Oleh sebab itu orang kadang-kadang menyimpulkan bahwa di dalam kitab Perjanjian Lama poligami itu tidak dilarang, tetapi diterima dengan tidak ada yang menentang. Jika ada yang berpendapat demikian, maka ia sebenarnya tidak membaca dengan baik kitab Perjanjian Lama itu. Sebab yang sebenarnya di dalam kitab Perjanjian Lama poligami itu dipandang sebagai bentuk pernikahan yang merusak maksud Tuhan dengan nikah itu.

Contohnya pernikahan nabi Ibrahim, Yakub, Nabi Daud, Nabi Solaiman dll. Pernikahan Nabi Ibrahin dengan siti Hagar, yang adalah budak siti Sara istri Ibrahim dipandang sebagai akibat dari keragu-raguan Nabi Ibrahim dan siti Sara terhadap janji Tuhan, bahwa Ibrahim dan Sara akan memperoleh anak, walaupun usia mereka telah lanjut. Kita lihat pula betapa kebahagian pernikahan Yakup terganggu oleh kecemburuan antara Rakhel dan Lea, yaitu kedua isterinya. Kita lihat juga Nabi Solaiman yang mencemarkan martabatnya sebagai raja Mesianis, karena ia hendak mengadakan pelesiran, sebagaimana lazimnya dilakukan oleh raja-raja di timur tengah (nabi Solaiman memiliki 300 isteri dan 700 gundik).

Di dalam kitab perjanjian Baru (Injil) Yesus dan oleh para rasul diberitahukan bahwa monogami itu tegas-tegas sebagai tuntutan dan sebagai pemberian Allah.Yesus mengingatkan kita pada pernikahan yang asli, sebagaimana pada mulanya. Ditentangnya percerian menurut tafsiran orang Yahudi (Farisi) dan poligami yang berhubungan dengan perceraian (Injil Matius 19:3).

Jemaat-jemaat yang terdiri dari orang-orang kafir dahulu itu, dididik para rasul kepada monogami.Pada masa permulaan, poligami memang masuh terdapat didalam banyak jemaat-jemaat di asia kecil dan eropah. Tetapi angkatan yang lebih muda telah dididik kepada monogami. Dalam kitab I Timotius 3 misalnya tertulis bahwa para pemangku jabatan gereja haruslah dipilih dari orang-orang yang mempunyai seorang isteri saja.

Mengapa Tuhan menuntut monogami ? karena hanya monogamilah yang sesuai dengan agape, yaitu kasih yang melayani. Agape itu tidak mencari keuntungan sendiri, tidak menyampingkan keinginan akan kebahagian perseorangan, tetapi menuju kebahagian bersama, artinya : ia menolak poligami dan penerima monogami. Kasih agape  itu penyayang, tidak berlaku yang tidak senonoh, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak lekas marah, panjang sabar ( I Korintus 13). Kasih yang demikianlah yang menuntut monogami.

Poligami didasarkan pada eros, yaitu cinta-birahi. Cinta birahi sangat tidak sabar, jika kawan hidup itu sudah tua atau sakit-sakitan saja, maka cinta-birahi akan mengarahkan napsunya kepada kawan hidup yang lain. Tetapi kasih yang sejati itu panjang sabar terhadap kawan hidup dan dengan demikian terlindunglah kebahagian hidup pernikahan.

Poligami itu bertentangan dengan kasih kristen yang berlandaskan kasih sejati. Kasih kristen menuntut monogami. Tetapi monogami itu bukan hanya tuntutan saja, melainkan itu suatu pemberian Tuhan yang sangat besar. Rahasia dwi-tunggal (monogami) itu adalah kebahagiaan duniawi yang terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita. Barang siapa yang merusak dan mencemarkan rahasia itu akan mengetahui, bahwa dengan demikian ia merusakkan dan mencemarkan salah satu pemberian Tuhan.

Perjuangan Monogami di Indonesia.
Di Indonesia ini perlu sekali orang menitikberatkan monogami sebagai tuntutan dan pemberian Tuhan. Baik dalam apa yang disebut agama suku-suku, maupun dalam agama Islam poligami itu masih terdapat. Baik dalam hukum adat maupun dalam kitab Fiqh, poligami itu masih dilindungi.

Dalam Qur'an Surat 4 : 3 tertulis sebagai berikut :" Jika kamu takut bahwa kamu tak akan berlaku adil terhadap anak-anak yatim, maka kawinilah oleh mu perempuan yang baik bagi kamu, berdua, bertiga atau berempat orang. Tetapi jika kamu takut bahwa kamu tiada akan berlaku adil, kawinilah seorang saja". Ayat ini dipakai sebagai dasar untuk peraturan-peraturan yang disebut dalam kitab Fiqh, yakni seorang Muslim tidak boleh mempunyai lebih dari empat orang isteri.

Pada zaman nabi Muhammad, poligami itu berkecamuk di sekeliling, tidak terbatas. Berdasarkan ayat tersebut di atas para juru tafsir Qur'an dan para ahli kitab Fiqh menerangkan, bahwa maksud nabi Muhammad ialah membatasi poligami itu sampai empat orang isteri. Bahwa nabi Muhammad sendiri mempunyai lebih dari empat orang isteri, hal itu di dalam Qur'an dan Hadith didasarkan pada keputusan kehendak Allah yang khusus.

Dalam aliran Islam yang reformis,  sikap para reformator terhadap peraturan poligami itu seperti yang tertulis dalam sebuah buku karangan seorang reformator Mesir bernama Rashid Rida. Buku itu diterbitkan pada tahun 1932 berjudul :" Nida'lil Djins al latif" (Seruan kepada sekse yang indah). Dalam buku itu monogami dibela mati-matian. Ditunjukkanbahwa di dalam Agama Islam poligami itu bukanlah wajib (fard) dan bukan pula sesuatu yang dianjurkan (mandub). Ia menerangkan bahwa poligami itu "diperbolehkan" (mutbah). Apa sebab ?

Diterangkan oleh Rashid Rida bahwa poligami itu sesuai dengan "alam". Laki-laki adalah poligam (suka memadu). Selanjutnya diterangkan bahwa untuk melangsungkan keturunan kadang-kadang diperlukan poligami, dan sebagai alasan terakhir disebutkan juga karena "kelebihan wanita". Dalam hubungan ini agama Islam itu disebut "agama menengah". Menurut beliau, nabi Musa memperbolehkan poligami yang tiada batas. Tetapi nabi Isa (Yesus) terlalu keras, karena menuntut monogami. Nabi Muhammad menempuh jalan tengah. Beliau tidak terlalu "murah hati" seperti nabi Musa. Juga tidak terlalu keras seperti nabi Isa. Agama Islam adalah agama menengah. Di Indonesia banyak pemimpin-peminpin agama Islam yang mempertahankan pendirian itu. Seperti misalnya Haji Agus Salim, dalam tulisan-tulisan dan pidatonya.

Di Indonesia terutama di lingkungan pergerakkan wanita, dari pihak Islam dianjurkan pula adanya undang-undang pernikahan yang monogami, walaupun banyak pula yang menetangnya. Terbukti dari gejala-gejala itu bahwa pendapat umum semakin menolak poligami atau permaduan. Gejala-gejala itu tidak dapat diterangkan dari agama islam sendiri, tetapi timbul juga, walaupun sebagian besar rakyat Indonesia beragama  Islam. Gejala-gejala itu menunjukkan bahwa keinsafan-batin manusia telah dibangun dan menerima monogami sebagai pemberian dan tuntutan Tuhan.