Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Hal  Berpuasa
(Oleh J Verkuyl)

"Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Allah mu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Allah mu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" (Injil Matius 6:17-18).

Pada perbutan keagamaan ini pun Yesus bertanya: apakah motifnya ? apakah alasannya ? apakah dasar-dasarnya?  Didalam peraturan-peraturan yang dibuat oleh orang Yahudi (Farisi), berpuasa ini menduduki tempat yang amat penting. Waktu berpuasa ditentukan oleh para rabi (pemuka agama Yahudi) pada hari Senin dan Kamis. Menurut mereka berpuasa pada hari-hari itu sangat dihargai Tuhan.

Berpuasa itu dianggap sebagai suatu perbuatan yang saleh dan berpahala, yang dengannya orang dapat "membeli" perkenan atau kasih Tuhan. Dengan banyak berpuasa, orang menyangka bahwa Tuhan akan lebih berkenan kepadanya dari pada kepada orang-orang lainnya. Berpuasa itu oleh mereka dinamakan suatu "jalan suci", suatu alat untuk membebaskan diri sendiri dan untuk mengadakan perdamaian dengan Tuhan.

Berhubungan dengan itu maka orang sangat cenderung berpuasa secara demonstratif. Orang amat suka menonjolkan bahwa ia berpuasa. Misalnya dengan menghitami sudut-sudut mulut dengan arang. Coretan-coretan hitam di bawah mata dan di sudut mulut haruslah mendemonstrasikan betapa berat penderitaan mereka. Apabila mereka berpuasa, mereka mengenakan pakaian berkabung, sehingga sangat menyolok mata dan orang-orang lainpun saling bergamitan dan berbisik-bisik, "berat benar tanggungan orang itu !" Dengan demikian berpuasa itu menjadi suatu "pertunjukkan", suatu perbuatan munafik.

Tuhan Yesus membuka kedok perbuatan munafik itu. Ia membuka motif-motif yang mendorong orang-orang Yahudi (Farisi)
 melakukan puasa secara demikian, yakni motif melakukan suatu prestasi, supaya mendapat pahala dari Tuhan dan dilihat orang lain. Perbuatan yang hanya pada lahirnya saja, tak ada gunanya, kata Tuhan Yesus. " Apabila kamu berpuasa, hilangkanlah tanda-tanda yang terkecilpun yang dapat mencolok mata orang lain. Cucilah mukamu, minyakilah rambutmu, kenakanlah pakaian sehari-hari. Jangan engkau pasang muka seperti orang berdukacita. Jangan kau tonjolkan bahwa engkau berpuasa. Biarlah kelihatan gembira mukamu, walaupun sedih hatimu. Apabila kamu berpuasa, biarlah hanya kelihatan oleh Tuhan sendiri yang melihat yang tersembunyi. Bahkan dari luar hendaknya kamu kelihatan seperti sedang berpesta, supaya rasa berdukacita itu jangan sampai palsu di hadirat Tuhan".

Baiklah kata-kata yang aneh dan sangat menawan hati, kita renungkan lebih dalam, juga untuk zaman sekarang. Di dunia ini banyak orang yang berpuasa.Didalam buku-buku moral dan dalam surat penghapusan dosa (aflaat), telah ditentukan waktu-waktu berpuasa dan dijelaskan pula dengan teliti makanan apa yang boleh dan yang tidak boleh dimakan. Berpuasa itu dianggap berpahala. Berpuasa itu "mengekang hawa nafsu kita, meninggikan jiwa kita, menjalani hukuman penebusan dosa", demikianlah diterangkan di dalam buku-buku moral.

Di dalam agama Islam telah ditentukan satu bulan untuk berpuasa, yakni bulan Ramadhan. Di dalam buku Figh Islam, cara berpuasa itu diterangkan dengan teliti sekali. Berpuasapun sangat dihargai, dipandang sebagai perbuatan menebus hukuman dosa-dosa yang dibuat dalam waktu lampau. Teristimewa kitab-kitab Hadis sangat menekankan hal ini. Di dalam agama suku dan animisme, berpuasa itu pun dianggap sangat penting. Disitu berpuasa dilakukan sebagai magic atau guna-guna untuk menolak sesuatu. Misalnya, berpuasa untuk menolak roh-roh jahat atau mendapatkan pengaruh-pengaruh yang baik.

Motif-motif berpuasa yang demikian itulah ditentang oleh Tuhan Yesus dalam firman-Nya. Tuhan Yesus menolak puasa sebagai jalan untuk menyelamatkan diri sendiri. Tidak seorangpun dapat membuka jalan kepada Tuhan dengan berpuasa dan merebut perkenan Tuhan dengan berpuasa serta membeli berkat dan bahagia dengan berpuasa. Tuhan Yesus adalah jalan dari Allah kepada kita. Kekayaan kerajaan Allah diberikan kepada kita, begitu saja diberikan tanpa memerlukan pahala atau jasa dari pihak kita, semata-mata oleh karena cinta kasih Tuhan, anugerah Tuhan.

Tiap-tiap puasa  yang dianggap berpahala oleh manusia ditentang oleh Tuhan Yesus. Ia menentang pula puasa berkala (puasa pada waktu-waktu tertentu) dan kebiasaan-kebiasaan pada waktu berpuasa. Barang siapa hidup dari anugerahNya, ia tidak tunduk ke bawah kuk (beban) puasa menurut hukum Taurat, dan ia pun tidak ikut-ikutan berpuasa secara demonstratif.  Apakah ini berarti Tuhan Yesus melarang orang berpuasa ? Tentu tidak. Yesus berkata, "Apabila kamu berpuasa....". Dalam Injil Lukas 5:43 Yesus memberitahukan lebih dahulu, bahwa akan datang waktunya murid-murid itu berdukacita dan berpuasa, yakni bila ia disalibkan dan mereka menjadi tawar hati, putus asa. Pada waktu itulah mereka berpuasa. Jadi berpuasa tidak karena peraturan, tetapi karena jiwa mereka hancur rasanya.

Diantara murid-murid Tuhan Yesus, hendaknya berpuasa itu  jangan bersifat perbuatan untuk mendatangkan pahala. Juruselamat telah datang. Kita boleh hidup dari pekerjaannya yang telah selesai, telah genap. Berpuasa haruslah suatu pemusatan dari apa yang telah kita terima di dalam Yesus Kristus, berpuasa ialah memperhatikan dengan diam dan khidmat anugerah yang sedemikian besarnya, memikirkan lagi hubungan kita dengan Dia atau memusatkan diri pada pekerjaan untuk keranjaanNya.

Lebih-lebih bila kita telah lama hidup jauh dari Tuhan, dan akhirnya siuman dari keadaan "tak sadarkan diri" itu, bila Tuhan memimpin kita melalui sakit dan sengsara kembali kepada kasihNya, bila justru didalam hukuman Tuhan atas kita dan anak-anak, kita mendengar lagi suara perkenanNya yang kekal, maka kadang-kadang (dengan tidak disuruh atau menurut peraturan, tetapi dengan kesadaran sendiri) merataplah hati kita , yang oleh Tuhan Yesus disebut berpuasa sejati ialah ketenangan jiwa di hadiratNya, didalam dukacita, dan  juga didalam sukacita. Puasa seperti ini oleh Agustinus disebut "fletus et hymnus" menangis dan memuji. Menangisi pelangaran-pelangaran kita yang menyebabkan Tuhan Yesus  sakirt hati-Nya dan dengan pelanggaran itu kita menyangkal kasih Allah. Dan dengan mengucapkan puji-pujian, yang dengan tenangnya naik keatas hadirat Allah karena Allah  menyertai kita dan menaruh kasih setiaNya kepada kita sekalian. Inilah "upah" kita yang disebut-sebut oleh Yesus.

Orang yang demikian cara berpuasanya, tak perlu- bahkan tak dapat berpura-pura. Sebab didalam berpuasa yang demikian itulah dukacita dan sukacita bercampur. Oleh sebab itu, hendaklah orang-orang hanya melihat sukacita kita, dan Allah di surga melihat dukacita dan sukacita kita. Maka keadaan kita akan menjadi baik, lebih daripada baik, sebab didalam berpuasa yang demikian, Allah dekat dengan kita.