Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Kanon Alkitab
(Oleh Herbert Haag)

PENGERTIAN. Pengertian dasar kata Yunani "kanon" adalah sama dengan kata Ibrani "kaneh": teberau. Lewat arti "teberau pengukur" timbul arti kiasan "alat pengukur", "norma" (Hal itu dapat dilihat pada PERJANJIAN BARU:  2 Korintus 10:13-16; Galalatia 6:16). Sejak pertengahan abad 4 kumpulan buku Alkitab disebut Kanon. Suatu tulisan yang "diinspirasikan", oleh karena tulisan itu berasal dari Allah. Sebuah tulisan adalah "kanonik", apabila asal ilahinya dikenal oleh Gereja dan diakui secara resmi. Di dalam bahasa ungkapan pengertian katolik diadakan pembedaan antara kitab-kitab protokanonik ( masuknya kitab-kitab tersebut pada Kanon tidak pernah diragukan di dalam Gereja) dan kitab-kitab deuterokanonik ( mengenai inspirasi untuk kitab-kitab tersebut tersangkal pada saat-saat tertentu atau pada tempat-tempat tertentu). Tujuh buah Kitab PERJANJIAN LAMA ( Tob., Ydt., Bar., Keb., Sir., 1 Mak.) pada akhir abad 1 sesudah masehi tidak dimasukkan ke dalam Kanon oleh bangsa Yahudi. Oleh karena itu di dalam Gereja Katolik dianggap menjadi Kitab Deuterokanonik. Tata penggunaan bahasa kristen protestan membedakan Kitab-kitab Apokrif (Katolik adalah Kitab Deuterokanonik) dan Kitab-kitab pseudoepigraf ( Katolik adalah apokrif).

Kanon Yahudi. Bangsa Yahudi menggunakan kata-buatan "ternak" untuk menyebut  Alkitab ( diambil dari awal huruf: Torah, Nebiim, Ketubim = Hukum, para nabi dan kitab-kitab (lainnya). Torak ( Pentateukh) dianggap sebagai inti wahyu illahi dan memiliki kewibawaan tertinggi. Di dalam Kitab-kitab para nabi tradisi Yahudi membedakan antara para nabi "yang lebih kuno" (Yesaya, Hakim-hakim., Samuel, dan Raja-raja) serta para nabi "yang lebih muda waktunya" (Yesaya, Yermia, Yehezkiel, dan Kitab ke-12 nabi). Kelompok ketiga, yang masih disebut "Kitab-Kitab" secara samar ialah gabungan apa saja yang masih terdapat di dalam sastra Alkitab, pada waktu setelah kedua kelompok pertama itu ditutup. Di dalam prakata yang dilakukan oleh penterjemah Yunani pada Kitab Sir. (sekitar 130 sebelum masehi.) telah diketemukan ketiga pembagian itu: Hukum, Nabi-nabi, Kitab-kitab (para bapa) lainnya. Pembagian itu dipakai juga di dalam PERJANJIAN BARU Tetapi di dalam PERJANJIAN BARU sering terungkap kata "hukum" untuk menyebutkan keseluruhan Kitab PERJANJIAN LAMA Sejak abad 4 sebelum masehi. Pentateukh dan Kitab para Nabi dipandang sebagai kesatuan-kesatuan besar yang harmonis (Kitab Dan yang ditambahkan di waktu kemudian tidak ikut dihitung). Mengenai keseluruhan isi Kitab LXX (SEPTUAGINTA) Yahudi tidak ada kejelasan. Naskah-naskah yang tertua berasal dari abad 4 sesudah masehi. dari tangan para penulis Kristen. Namun, yang jelas adalah kenyataan, bahwa para penterjemah LXX (SEPTUAGINTA) juga memasukkan kitab-kitab lain di dalam terbitannya dan melampaui batas-batas Kanon - Yahudi yang resmi. Kelunakan yang sama, yang dahulu menguasai pandangan mengenai isi Kanon bagi tradisi Yahudi pada abad 3-1 sebelum masehi., dapat pula dilihat kembali pada abad 1 sesudah masehi.: Beberapa nukilan pada PERJANJIAN BARU merupakan sindiran-sindiran mengenai kitab-kitab deuterokanonik. Setidak-tidaknya sekali ada kutipan jelas - sebagai nubuat -, dari kitab apokrif (Ydt 14:1 = Henokh). Jemaat Kumran menggunakan pula Kitab-kitab deuterokanonik. Nampaknya mereka samakan kitab-kitab mereka dengan Kitab Suci dari Yudaisme resmi. Sinode Yahudi dari Yabne (90/95 sesudah masehi.) menetapkan Kanon dari 24 Kitab: Kejadian, Keluaran., Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja, Yesaya., Yermia, Yehezkiel, XII Nabi, Mazmur, Ayub, Amsal, Rut, Kidund-agung, Pengkhotbah, Ratatapan, Ester, Daniel, Ezra/Nehemia dan Tawarihk.

 Kanon Kristen. Meskipun ditemukan perlawanan dari beberapa perorangan Bapa  Gereja pada abad 3-5, namun Gereja mengambil-alih Kanon LXX (SEPTUAGINTA) yang diperluas sebagai miliknya. Tetapi di dalam tradisi LXX (SEPTUAGINTA) itu juga tidak ditemukan adanya sebuah kesatuan. Pada waktu sekarang ini, bila kita perhatikan terbitan cetak tangan dari Swete dan Rahifs, maka di situ tidak hanya ditemukan semua kitab deuterokanonik bersama tambahan-tambahannya pada Daniel. dan Ester., melainkan juga 2 Ezra., 3/4 Makabe, Mazmur  Salomo dan Doa Manasye. Melito dari Sardes (+ sekitar 190) merupakan Bapa Gereja pertama yang meninggalkan sebuah petunjuk daftar Kanon kepada kita. Di situ hanya dimuat kitab-kitab protokanonis tanpa Ester . Hampir semua para Bapa Gerejani Yunani dan Latin berpegang teguh pada Kitab-kitab Deuterokanonik. Di bawah pengaruh Agustinus timbullah putusan-putusan pertama lewat konsili dalam abad ke-4:  Penetapan kitab-kitab biblik pada konsili regional dari Hipo (393) dan pada konsili ke-3 serta ke-4 dari Kartago (397; 419). Putusan itu diambil-alih oleh konsili Trente.- Yang pertama kali membuka diskusi tentang Kanon di kalangan para Reformator adalah Karlstadt (1520). Di situ diadakan diskusi yang melulu didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sejarah. Luther mengambil kriterium Kanon dari kedekatan jarak suatu Kitab pada pewartaan kristen dan menaruh kitab-kitab Deuterokanonis maupun Ester, Tawarikh, dan Pengkhotbah, di luar Kanonik. Di kemudian waktu pandangannya ditinjau kembali olehnya. Alkitab Gereja Ortodoks sama isinya dengan Alkitab Gereja Katolik, yang masih ditambah dengan kitab-kitab Ezra dan 3 Makabe.

Kanon dari PERJANJIAN BARU. Gereja purba bukan hanya memandang PERJANJIAN LAMA sebagai kesaksian  yang tidak boleh diabaikan dari wahyu dan diselesaikan dengan kedatangan Yesus Kristus, oleh karena itu, semakin kuat Yudaisme menggunakan kesempatan untuk memakai PERJANJIAN LAMA sebagai alat melawan iman terhadap Kristus, maka semakin kuat pula Gereja menerima PERJANJIAN LAMA menjadi Alkitab mereka. Penggunaan kitab-kitab kristen yang tertua (surat-surat, injil-injil) sebagai kitab bacaan liturgi dan semakin meluasnya penyaluran kewibawaan sabda Yesus, ajaran para rasul dan para muridnya, yang di dalam pewartaan dan perbuatannya membenarkan kitab-kitab, maka kesaksian-kesaksian mengenai pewartaan dan perbuatan mereka lambat-laun menyebabkan, bahwa tulisan-tulisan itu ditangkap sebagai "Kitab Suci" Gereja dan disejajarkan dengan PERJANJIAN LAMA Keempat Injil memperoleh wibawa kanonik sejak pertengahan abad kedua. Surat-surat Paulus baru dikutip sebagai Kitab Suci pada sekitar tahun 180 sesudah Masehi. Usaha Marcion untuk memperkecil jumlah dokumen perwahyuan dan membanjirnya kitab-kitab baru, membuktikan perlunya diadakan perlindungan terhadap tradisi para rasul atas aliran-aliran yang dapat memalsukannya. Baru pada pertengahan kedua dari abad ke-4 instansi gereja bisa mengakhiri suasana tidak menentu yang sudah lama berkemelut. Kumpulan 27 Kitab Kanon yang untuk pertama kalinya dihitung oleh Athanasius (367) cepat sekali meluas di Barat dan pelan-pelan dapat meluas pula di daerah Timur. Akhirnya ditetapkan secara definitif oleh dekrit konsili Trente pada tahun 1546 perihal jumlah dan luas maupun panjangnya kitab-kitab itu.